Wednesday, January 21, 2015

GEREJA GANJURAN dan DOA PERMOHONAN ANGIN SIWIR SIWIR

Gereja Hati Kudus Yesus merupakan gereja Katolik Roma di Ganjuran, Bantul, Indonesia. Gereja ini juga dikenal dengan nama Gereja Ganjuran, berdasarkan tempat letaknya. Gereja ini merupakan gereja tertua di Bantul.

Gereja Ganjuran didirkan pada tanggal 16 April 1924 oleh keluarga Schmutzer, yang memiliki sebuah pabrik gula di wilayah itu. Dari jumlah 25 orang Katolik di Ganjuran pada tahun 1922, pada tahun 2011 sudah ada 8.000. Gedung gereja sudah banyak diubah, termasuk dibangun ulang setelah Gempa bumi Yogyakarta 2006. Banyak orang sudah menulis tentang desainnya yang beraliran Jawa, dan gereja ini terus memasuki budaya Jawa dalam liturgi.

Tuesday, January 13, 2015

Gua Maria Marganingsih - Bayat - Klaten - Jawa Tengah

Marganingsih dalam bahasa setempat (Jawa) berarti jalan mengalirnya kasih. Keutamaan inilah yang menjadi bahan utama dalam pergumulan setiap peziarah di Gua Maria Marganingsih. Untuk bisa sampai menyentuh pada pengalaman pergumulan bahwa Maria merupakan jalan mengalirnya kasih Allah, sebenar­nya bukanlah jalan pintas. Hal ini kentara sekali ketika peziarah memasuki lokasi peziarahan ini. Begitu masuk, peziarah dihadapkan pada dinding bebatuan yang melapisi hampir setiap lereng bukit. Memang hampir seluruh bebatuannya merupakan tiruan dari tangan-tangan perupa. Namun, keberadaannya seolah suatu gambaran pengolahan hidup yang begitu mendalam dan keras. Apalagi ketika mesti menapaki laku jalan salib. Jalan yang disajikan cukup mendaki dengan 14 peristiwa salib Kristus yang terbagi dalam tujuh teras, di lereng bukit itu. Masing-masing teras dihubungkan jalan berundak.
Usai pada penghujung perhentian salib yang terdapat di teras paling puncak, peziarah lalu diajak turun menapaki jalan berundak. Itulah perjalanan menuju gua. Tatkala mulai mendekati gua, peziarah diajak singgah sejenak di rumah Keluarga Kudus Nazaret. Dalam rumah keluarga inilah peziarah diingatkan akan keutamaan-keutamaan yang pernah dihidupi Yusuf, Maria, dan Yesus. Dan dari pada-Nya, peziarah patut berserah diri serta menimba makna hidup. Setelahnya, barulah menuju gua lalu duduk hening di hadapan Bunda Maria Marganingsih.